Kadang-kadang tanpa kita sadari, sebagai atasan maupun karyawan kita pernah mengalami stres dalam bekerja meskipun dalam taraf yang paling rendah. Setiap orang di mana pun dia berada di dalam suatu organisasi dapat berperan sebagai sumber stres bagi orang lain
Bagi seorang manajer, mengelola stres pekerja di tempat kerja lebih bersifat pemahaman akan penyebab stres orang lain dan mengambil tindakan untuk menguranginya.
Stres kerja akan berdampak pada produktivitas kerja karyawan. Di zaman yang seperti ini di mana peralatan kerja semakin modern dan beban kerja juga semakin bertambah sehingga akan menuntut energi karyawan yang lebih besar dari yang sudah-sudah. Sebagai akibatnya, pengalaman-pengalaman yang disebut stres dalam taraf yang cukup tinggi menjadi semakin terasa.
Cary Cooper dan Alison Straw (1995) mengemukakan gejala stres dapat berupa tanda-tanda berikut ini:
1. Fisik, yaitu nafas memburu, mulut dan kerongkongan kering, tangan lembab, terasa panas, otot-otot tegang, pencernaan terganggu, sembelit, letih yang tidak beralasan, sakit kepala, salah urat dan gelisah.
2. Perilaku, yaitu perasaan bingung, cemas dan sedih, jengkel, salah paham, tidak berdaya, tidak mampu berbuat apa-apa, gelisah, gagal, tidak menarik, kehilangan semangat, sulit konsentrasi, sulit berfikir jemih, sulit membuat keputusan, hilangnya kreatifitas, hilangnya gairah dalam penampilan dan hilangnya minat terhadap orang lain.
3. Watak dan kepribadian, yaitu sikap hati-hati menjadi cermat yang berlebihan, cemas menjadi lekas panik, kurang percaya diri menjadi rawan, penjengkel menjadi meledak-ledak.
Sedangkan gejala stres di tempat kerja, yaitu meliputi:
1. Kepuasan kerja rendah
2. Kinerja yang menurun
3. Semangat dan energi menjadi hilang
4. Komunikasi tidak lancar
5. Pengambilan keputusan jelek
6. Kreatifitas dan inovasi kurang
7. Bergulat pada tugas-tugas yang tidak produktif.
Semua yang disebutkan di atas perlu dilihat dalam hubungannya dengan kualitas kerja dan interaksi normal individu sebelumnya.
Selain itu gejala stres juga dapat berupa tanda-tanda berikut ini:
1. Fisik, yaitu sulit tidur atau tidur lidak teratur, sakit kepala, sulit buang air besar, adanya gangguan pencemaan, radang usus, kulit gatal-gatal, punggung terasa sakit, urat-urat pada bahu dan !eher terasa tegang, keringat berlebihan, berubah selera makan, tekanan darah tinggi atau serangan jantung, kehilangan energi.
2. Emosional, yaitu marah-marah, mudah tersinggung dan terlalu sensitif, gelisah dan cemas, suasana hati mudah berubah-ubah, sedih, mudah menangis dan depresi, gugup, agresif terhadap orang lain dan mudah bermusuhan serta mudah menyerang, dan kelesuan mental.
3. Intelektual, yaitu mudah lupa, kacau pikirannya, daya ingat menurun, sulit untuk berkonsentrasi, suka melamun berlebihan, pikiran hanya dipenuhi satu pikiran saja.
4. Interpersonal, yailu acuh dan mendiamkan orang lain, kepercayaan pada orang lain menurun, mudah mengingkari janji pada orang lain, senang mencari kesalahan orang lain atau menyerang dengan kata-kata, menutup diri secara berlebihan, dan mudah menyalahkan orang lain.
Stres merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seseorang di mana ia terpaksa memberikan tanggapan melebihi kenampuan penyesuaian dirinya terhadap suatu tuntutan eksternal (lingkungan). Stres yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya. Sebagai hasilnya, pada diri para karyawan berkembang berbagai macam gejala stres yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
Stres kerja timbul karena tuntutan lingkungan dan tanggapan setiap individu dalam menghadapinya dapat berbeda. Akibat adanya stres kerja tersebut orang menjadi nervous, merasakan kecemasan yang kronis, peningkatan ketegangan pada emosi, proses berfikir dan kondisi fisik individu. Selain itu, sebagai akibat dari adanya stres kerja karyawan mengalami beberapa gejala stres yang dapat mengancam dan mengganggu pelaksanaan kerja mereka, seperti : mudah marah dan agresi, tidak dapat relaks, emosi yang tidak stabil, sikap tidak mau bekerja sama, perasaan tidak mampu terlibat, dan kesulitan dalam masalah tidur.
Terjadinya stres kerja disebabkan oleh ketidakseimbangan antara karakteristik kepribadian karyawan dengan karakteristik aspek-aspek pekerjaannya dan dapat terjadi pada semua kondisi pekerjaan.
Terdapat dua faktor penyebab atau sumber munculnya stres kerja, yaitu faktor lingkungan kerja dan faktor personal. Faktor lingkungan kerja dapat berupa kondisi fisik, manajemen kantor maupun hubungan sosial di lingkungan pekerjaan. Sedang faktor personal bisa berupa tipe kepribadian, peristiwa/pengalaman pribadi maupun kondisi sosial-ekonomi keluarga di mana pribadi berada dan mengembangkan diri. Betapapun faktor kedua tidak secara langsung berhubungan dengan kondisi pekerjaan, namun karena dampak yang ditimbulkan pekerjaan cukup besar, maka faktor pribadi ditempatkan sebagai sumber atau penyebab munculnya stres. Secara umum faktor penyebab stres dikelompokkan sebagai berikut :
1. Tidak adanya dukungan sosial. Artinya, stres akan cenderung muncul pada para karyawan yang tidak mendapat dukungan dari lingkungan sosial mereka. Dukungan sosial di sini bisa berupa dukungan dari lingkungan pekerjaan maupun lingkungan keluarga. Banyak kasus menunjukkan bahwa, para karyawan yang mengalami stres kerja adalah mereka yang tidak mendapat dukungan (khususnya moril) dari keluarga, seperti orang tua, mertua, suami atau istri, anak, teman dan semacamnya. Begitu juga ketika seseorang tidak memperoleh dukungan dari rekan sekerjanya (baik pimpinan maupun bawahan) akan cenderung lebih mudah terkena stres. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya dukungan sosial yang menyebabkan ketidaknyamanan menjalankan pekerjaan dan tugasnya.
2. Tidak adanya kesempatan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan di kantor. Hal ini berkaitan dengan hak dan kewenangan seseorang dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya. Banyak orang mengalami stres kerja ketika mereka tidak dapat memutuskan persoalan yang menjadi tanggung jawab dan kewenangannya. Stres kerja juga bisa terjadi ketika seorang karyawan tidak dilibatkan dalam pembuatan keputusan yang menyangkut dirinya.
3. Pelecehan seksual, yakni kontak atau komunikasi yang berhubungan atau dikonotasikan berkaitan dengan seks yang tidak diinginkan. Pelecehan seksual ini bisa dimulai dari yang paling kasar seperti memegang bagian badan yang sensitif, mengajak kencan dan semacamnya sampai yang paling halus berupa rayuan, pujian bahkan senyuman yang tidak pada konteksnya. Dari banyak kasus pelecehan seksual yang sering menyebabkan stres kerja adalah perlakuan kasar atau penganiayaan fisik dari lawan jenis dan janji promosi jabatan namun tak kunjung terwujud hanya karena wanita. Stres akibat pelecehan seksual banyak terjadi pada negara yang tingkat kesadaran warga (khususnya wanita) terhadap persamaan jenis kelamin cukup tinggi, namun tidak ada undang-undang yang melindunginya.
4. Kondisi lingkungan kerja. Kondisi lingkungan kerja fisik ini bisa berupa suhu yang terlalu panas, terlalu dingin, terlalu sesak, kurang cahaya, dan semacamnya. Ruangan yang terlalu panas menyebabkan ketidaknyamanan seseorang dalam menjalankan pekerjaannya, begitu juga ruangan yang terlalu dingin. Panas tidak hanya dalam pengertian temperatur udara tetapi juga sirkulasi atau arus udara. Di samping itu, kebisingan juga memberi andil tidak kecil munculnya stres kerja, sebab beberapa orang sangat sensitif pada kebisingan dibanding yang lain.
5. Manajemen yang tidak sehat. Banyak orang yang stres dalam pekerjaan ketika gaya kepemimpinan para manajernya cenderung neurotis, yakni seorang pemimpin yang sangat sensitif, tidak percaya orang lain (khususnya bawahan), perfeksionis, terlalu mendramatisir suasana hati atau peristiwa sehingga mempengaruhi pembuatan keputusan di tempat kerja. Situasi kerja atasan selalu mencurigai bawahan, membesarkan peristiwa/kejadian yang semestinya sepele dan semacamnya, seseorang akan tidak leluasa menjalankan pekerjaannya, yang pada akhirnya akan menimbulkan stres.
6. Tipe kepribadian. Seseorang dengan kepribadian tipe A cenderung mengalami stres dibanding kepribadian tipe B. Beberapa ciri kepribadian tipe A ini adalah sering merasa diburu-buru dalam menjalankan pekerjaannya, tidak sabaran, konsentrasi pada lebih dan satu pekerjaan pada waktu yang sama, cenderung tidak puas terhadap hidup (apa yang diraihnya), cenderung berkompetisi dengan orang lain meskipun dalam situasi atau peristiwa yang non kompetitif. Dengan begitu, bagi pihak perusahaan akan selalu mengalami dilema ketika mengambil karyawan dengan kepribadian tipe A. Sebab, di satu sisi akan memperoleh hasil yang bagus dari pekerjaan mereka, namun di sisi lain perusahaan akan mendapatkan karyawan yang mendapat resiko serangan/sakit jantung.
7. Peristiwa/pengalaman pribadi. Stres kerja sering disebabkan pengalaman pribadi yang menyakitkan, kematian pasangan, perceraian, sekolah, anak sakit atau gagal sekolah, kehamilan tidak diinginkan, peristiwa traumatis atau menghadapi masalah (pelanggaran) hukum. Banyak kasus menunjukkan bahwa tingkat stres paling tinggi terjadi pada seseorang yang ditinggal mati pasangannya, sementara yang paling rendah disebabkan oleh perpindahan tempat tinggal. Disamping itu, ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari, kesepian, perasaan tidak aman, juga termasuk kategori ini.
Menurut Davis dan Newstrom stres kerja dapat disebabkan oleh :
1. Adanya tugas yang terlalu banyak. Banyaknya tugas tidak selalu menjadi penyebab stres, akan menjadi sumber stres bila banyaknya tugas tidak sebanding dengan kemampuan baik fisik maupun keahlian dan waktu yang tersedia bagi karyawan.
2. Supervisor yang kurang pandai. Seorang karyawan dalam menjalankan tugas sehari-harinya biasanya di bawah bimbingan sekaligus mempertanggungjawabkan kepada supervisor. Jika seorang supervisor pandai dan menguasai tugas bawahan, ia akan membimbing dan memberi pengarahan atau instruksi secara baik dan benar.
3. Terbatasnya waktu dalam mengerjakan pekerjaan. Karyawan biasanya mempunyai kemampuan normal menyelesaikan tugas kantor/perusahaan yang dibebankan kepadanya. Kemampuan berkaitan dengan keahlian, pcngalaman, dan waktu yang dimiliki. Dalam kondisi tertentu, atasan seringkali memberikan tugas dengan waktu yang lerbatas. Akibatnya karyawan dikejar waktu untuk menyelesaikan tugas tepat waktu sesuai dengan yang ditetapkan atasan.
4. Kurang mendapat tanggungjawab yang memadai. Faktor ini berkaitan dengan hak dan kewajiban karyawan. Atasan sering memberikan tugas kepada bawahannya tanpa diikuti kewenangan (hak) yang memadai. Sehingga jika harus mengambil keputusan harus berkonsultasi, kadang menyerahkan sepenuhnya pada atasan.
5. Ambiguitas peran. Agar menghasilkan performance yang baik, karyawan perlu mengetahui tujuan dari pekerjaan, apa yang diharapkan untuk dikerjakan serta scope dan tanggungjawab dari pekerjaan mereka. Saat tidak ada kepastian tentang definisi kerja dan apa yang diharapkan dari pekerjaannya akan timbul ambiguitas peran.
6. Perbedaan nilai dengan perusahaan. Situasi ini biasanya terjadi pada para karyawan atau manajer yang mempunyai prinsip yang berkaitan dengan profesi yang digeluti maupun prinsip kemanusiaan yang dijunjung tinggi (altruisme).
7. Frustrasi. Dalam lingkungan kerja, perasaan frustrasi memang bisa disebabkan banyak faktor. Faktor yang diduga berkaitan dengan frustrasi kerja adalah terhambatnya promosi, ketidakjelasan tugas dan wewenang serta penilaian/evaluasi staf, ketidakpuasan gaji yang diterima.
8. Perubahan tipe pekerjaan, khususnya jika hal tersebut tidak umum. Situasi ini bisa timbul akibat mutasi yang tidak sesuai dengan keahlian dan jenjang karir yang dilalui atau mutasi pada perusahaan lain, meskipun dalam satu grup namun lokasinya dan status jabatan serta status perusahaannya berada di bawah perusahaan pertama.
9. Konflik peran. Terdapat dua tipe umum konflik peran yaitu (a) konflik peran intersender, dimana pegawai berhadapan dengan harapan organisasi terhadapnya yang tidak konsisten dan tidak sesuai; (b) konflik peran intrasender, konflik peran ini kebanyakan terjadi pada karyawan atau manajer yang menduduki jabatan di dua struktur. Akibatnya, jika masing-masing struktur memprioritaskan pekerjaan yang tidak sama, akan berdampak pada karyawan atau manajer yang berada pada posisi di bawahnya, terutama jika mereka harus memilih salah satu alternatif.
Sumber stres yang menyebabkan seseorang tidak berfungsi optimal atau yang menyebabkan seseorang jatuh sakit, tidak saja datang dari satu macam pembangkit tetapi dari beberapa pembangkit stres. Sebagian besar bersumber dari pekerjaan. Karena itu lingkungan pekerjaan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan seseorang yang bekerja. Pembangkit stres di pekerjaan merupakan pembangkit stres yang besar perannya terhadap kurang berfungsinya atau jatuh sakitnya seseorang tenaga kerja yang bekerja. Faktor-faktor di pekerjaan yang berdasarkan penelitian dapat menimbulkan stres dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori besar yaitu faktor-faktor intrinsik dalam pekerjaan, peran dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan dalam pekerjaan, serta struktur dan iklim organisasi.
Faktor-faktor Intrinsik dalam Pekerjaan ialah tuntutan fisik dan tuntutan tugas. Tuntutan fisik misalnya faktor kebisingan. Sedangkan faktor-faktor tugas mencakup: kerja malam, beban kerja, dan penghayatan dari resiko dan bahaya.
Setiap karyawan bekerja sesuai dengan perannya dalam organisasi, artinya setiap tenaga kerja mempunyai kelompok tugasnya yang harus dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang ada dan sesuai dengan yang diharapkan oleh atasannya. Namun demikian karyawan tidak selalu berhasil untuk memainkan perannya tanpa menimbulkan masalah. Kurang baik berfungsinya peran, yang merupakan pembangkit stres yaitu meliputi: konflik peran dan ketaksaan peran (role ambiguity).
Konflik peran timbul jika seorang tenaga kerja mengalami pertentangan antara tugas-tugas yang harus ia lakukan dan tanggung jawab yang ia miliki, tuntutan-tuntutan yang bertentangan dari atasan, rekan, bawahannya, atau orang lain yang dinilai penting bagi dirinya, pertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadinya sewaktu melakukan tugas pekerjaannya.
Ketaksaan peran terjadi jika seorang pekerja tidak memiliki cukup informasi untuk dapat melaksanakan tugasnya, atau tidak mengerti atau merealisasi harapan-harapan yang berkaitan dengan peran tertentu. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan ketaksaan adalah ketidakjelasan sasaran-saran (tujuan-tujuan), kesamaran tanggung jawab, ketidakjelasan prosedur kerja, kesamaran tentang apa yang diharapkan oleh orang lain, kurang adanya umpan balik atau ketidakpastian produktifitas kerja.
Stres yang timbul karena ketidakjelasan sasaran akhirnya mengarah pada ketidakpuasan pekerjaan, kurang memiiiki kepercayaan diri, rasa tak berguna, rasa harga diri menurun, depresi, motivasi rendah untuk bekerja, peningkatan tekanan darah dan detak nadi, dan kecenderungan untuk meninggalkan pekerjaan.
Pengembangan karir merupakan pembangkit stres potensial yang mencakup ketidakpastian pekerjaan, promosi berlebih, dan promosi yang kurang. Perubahan-perubahan lingkungan menimbulkan masalah baru yang dapat mempunyai dampak pada perusahaan. Reorganisasi dirasakan perlu untuk dapat menghadapi perubahan lingkungan dengan lebih baik. Sebagai akibatnya ialah adanya pekerjaan lama yang hilang dan adanya pekerjaan yang baru. Dapat terjadi bahwa pekerjaan yang baru memerlukan ketrampilan yang baru. Setiap reorganisasi menimbulkan ketidakpastian pekerjaan, yang merupakan sumber stres yang potensial.
Setiap organisasi industri mempunyai proses pertumbuhan masing-masing. Ada yang tumbuhnya cepat dan ada yang lambat, ada pula yang tidak tumbuh atau setelah tumbuh besar mengalami penurunan, organisasi menjadi lebih kecil. Pola pertumbuhan organisasi industri berbeda-beda. Salah satu akibat dari proses pertumbuhan ini ialah tidak adanya kesinambungan dari mobilitas vertikal para karyawannya.
Peluang dan kecepatan promosi tidak sama setiap saat. Dalam pertumbuhan organisasi yang cepat, banyak kedudukan pimpinan memerlukan karyawan, dalam keadaan sebaliknya, organisasi terpaksa harus memperkecil diri sehingga tidak ada peluang untuk mendapatkan promosi, malahan akan timbul kecemasan akan kehilangan pekerjaan.
Peluang yang kecil untuk promosi, baik karena keadaan tidak mengizinkan maupun karena dilupakan, dapat merupakan pembangkit stres bagi karyawan yang rnerasa sudah waktunya mendapatkan promosi. Perilaku yang mengganggu, semangat kerja yang rendah dan hubungan antarpribadi yang bermutu rendah, berkaitan dengan stres dari kesenjangan yang dirasakan antara kedudukannya sekarang di organisasi dengan kedudukan yang diharapkan. Sedangkan stres yang timbul karena over-promotion memberikan kondisi beban kerja yang berlebihan serta adanya tuntutan pengetahuan dan ketrampilan yang tidak sesuai dengan bakatnya.
Hubungan kerja yang tidak baik terungkap dalam gejala-gejala adanya kepercayaan yang rendah, dan minat yang rendah dalam pemecahan masalah dalam organisasi. Ketidakpercayaan secara positif berhubungan dengan ketaksaan peran yang tinggi, yang mengarah ke komunikasi antar pribadi yang tidak sesuai antara pekerja dan ketegangan psikologikal dalam bentuk kepuasan pekerjaan yang rendah, penurunan kondisi kesehatan, dan rasa diancam oleh atasan dan rekan-rekan kerjanya.
Kurangnya peran serta atau partisipasi dalam pengambilan keputusan berhubungan dengan suasana hati dan perilaku negatif. Peningkatan peluang untuk berperan serta menghasilkan peningkatan produktivitas, dan peningkatan taraf kesehatan mental dan fisik.
Segala unsur kehidupan seseorang yang dapat berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa kehidupan dan kerja di dalam satu organisasi, dan dapat memberi tekanan pada individu dapat merupakan sumber stres. Masalah keluarga, krisis kehidupan, kesulitan keuangan, keyakinan-keyakinan pribadi dan organisasi yang bertentangan, konflik antara tuntutan keluarga dan tuntutan perusahaan, semuanya dapat merupakan tekanan pada individu dalam pekerjaannya, sebagaimana halnya stres dalam pekerjaan mempunyai dampak yang negatif pada kehidupan keluarga dan pribadi.
Stres ditentukan pula oleh individunya sendiri, sejauh mana ia melihat situasinya sebagai penuh stres. Reaksi-reaksi psikologis, fisiologis, dan dalam bentuk perilaku terhadap stres adalah hasil dari interaksi situasi dengan individunya yang mencakup ciri-ciri kepribadian yang khusus dan pola-pola perilaku yang didasarkan pada sikap, kebutuhan, nilai-nilai, pengalaman masa lalu, keadaan kehidupan dan kecakapan (antara lain inteligensi, pendidikan, pelatihan, pembelajaran). Dengan demikian, faktor-faktor dalam diri individu berfungsi sebagai faktor pengaruh antara rangsang dari lingkungan yang merupakan pembangkit stres potensial dengan individu. Faktor pengubah ini yang menentukan bagaimana, dalam kenyataannya, individu bereaksi terhadap pembangkit stres potensial. Orang yang berkepribadian introvert bereaksi lebih negatif dan menderita ketegangan yang lebih besar daripada mereka yang berkepribadian extrovert, pada konflik peran. Kepribadian yang flexible (orang yang lebih terbuka terhadap pengaruh dari orang lain sehingga lebih mudah mendapatkan beban yang berlebihan) mengalami ketegangan yang lebih besar dalam situasi konflik, dibandingkan dengan mereka yang berkepribadian rigid. Kecakapan seseorang merupakan variabel yang ikut menentukan stres tidaknya suatu situasi yang sedang dihadapi, Jika seorang pekerja menghadapi masalah yang ia rasakan tidak mampu ia pecahkan, sedangkan situasi tersebut mempunyai arti yang penting bagi dirinya, situasi tersebut akan ia rasakan sebagai situasi yang mengancam dirinya sehingga ia mengalami stres. Ketidakmampuan menghadapi situasi menimbulkan rasa tidak berdaya. Sebaliknya jika merasa mampu menghadapi situasi orang justru akan merasa ditantang dan motivasinya akan meningkat.
Setiap organisasi mempunyai kebudayaan masing-masing. Kebudayaan yang terdiri dari keyakinan-keyakinan, nilai-nilai dan norma-norma perilaku yang menunjang organisasi dalam usahanya mengatasi masalah-masalah adaptasi ekstemal dan internal. Para karyawan diharapkan berperilaku sesuai dengan norma-norma perilaku yang diterima dalam organisasi.
Rendall Schuller mengidentifikasi beberapa perilaku negatif karyawan yang berpengaruh terhadap organisasi. Menurut peneliti ini, stres yang dihadapi oleh karyawan berkorelasi dengan penurunan prestasi kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja serta tendesi mengalami kecelakaan. Secara singkat beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh stres kerja dapat berupa:
1.Terjadinya kekacauan, hambatan baik dalam manajemen maupun operasional kerja
2. Mengganggu kenormalan aktivitas kerja
3. Menurunkan tingkat produktivitas
4. Menurunkan pemasukan dan keuntungan perusahaan. Kerugian finansial yang dialami perusahaan karena tidak imbangnya antara produktivitas dengan biaya yang dikeluarkan untuk membayar gaji, tunjangan, dan fasilitas lainnya.
Pengaruh stres kerja ada yang menguntungkan maupun merugikan bagi perusahaan. Namun pada taraf tertentu pengaruh yang menguntungkan perusahaan diharapkan akan memacu karyawan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Reaksi terhadap stres dapat merupakan reaksi bersifat psikis maupun fisik.
Biasanya karyawan yang stres akan menunjukkan perubahan perilaku. Perubahan perilaku terjadi pada diri manusia sebagai usaha mengatasi stres. Usaha mengatasi stres dapat berupa perilaku melawan stres (flight) atau freeze (berdiam diri). Dalam kehidupan sehari-hari ketiga reaksi ini biasanya dilakukan secara bergantian, tergantung situasi dan bentuk stres.
Gejala-gejala individu yang mengalami stres kerja antara lain adalah :
1. Bekerja melewati batas kemampuan
2. Keterlambatan masuk kerja yang sering
3. Ketidakhadiran pekerjaan
4. Kesulitan membuat keputusan
5. Kesalahan yang sembrono
6. Kelalaian menyelesaikan pekerjaan
7. Lupa akan janji yang telah dibuat dan kegagalan diri sendiri
8. Kesulitan berhubungan dengan orang lain
9. Kerisauan tentang kesalahan yang dibuat
10.Menunjukkan gejala fisik seperti pada alat pencernaan, tekanan darah tinggi, radang kulit, radang pernafasan. Munculnya stres, baik yang disebabkan oleh sesuatu yang menyenangkan atau sesuatu yang tidak menyenangkan akan memberikan akibat tertentu pada seseorang. .
Stres yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat menyebabkan tingkat prestasi (kinerja) yang rendah (tidak optimum). Bagi seorang manajer (pimpinan) tekanan-tekanan yang diberikan kepada seorang karyawan haruslah dikaitkan dengan apakah stres yang ditimbulkan oleh tekanan-tekanan tersebut masih dalam keadaan wajar. Stres yang berlebihan akan menyebabkan karyawan tersebut frustrasi dan dapat menurunkan prestasinya, sebaliknya stres yang terlalu rendah menyebabkan karyawan tersebut tidak bermotivasi untuk berprestasi.
Stres dalam pekerjaan dapat dicegah timbulnya dan dapat dihadapi tanpa memperoleh dampak yang negatif. Manajemen stres lebih daripada sekedar mengatasinya, yakni belajar menanggulanginya secara adaptif dan efektif. Hampir sama pentingnya untuk mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan dan apa yang harus dicoba. Sebagian para pengidap stres di tempat kerja akibat persaingan, sering melampiaskan dengan cara bekerja lebih keras yang berlebihan. Ini bukanlah cara efektif yang bahkan tidak menghasilkan apa-apa untuk memecahkan sebab dari stres, justru akan menambah masalah lebih jauh. Sebelum masuk ke cara-cara yang lebih spesifik untuk mengatasi stressor tertentu, harus diperhitungkan beberapa pedoman umum untuk memacu perubahan dan penanggulangan. Pemahaman prinsip dasar, menjadi bagian penting agar seseorang mampu merancang solusi terhadap masalah yang muncul terutama yang berkait dengan penyebab stres dalam hubungannya di tempat kerja.
Dalam hubungannya dengan tempat kerja, stres dapat timbul pada beberapa tingkat, berjajar dari ketidakmampuan bekerja dengan baik dalam peranan tertentu karena kesalahpahaman atasan atau bawahan. Atau bahkan dari sebab tidak adanya ketrampilan (khususnya ketrampilan manajemen) hingga sekedar tidak menyukai seseorang dengan siapa harus bekerja secara dekat.
Dari sudut pandang organisasi, manajemen mungkin tidak khawatir jika karyawannya mengalami stres yang ringan. Alasannya karena pada tingkat stres tertentu akan memberikan akibat positif, karena hal ini akan mendesak mereka untuk melakukan tugas lebih baik. Tetapi pada tingkat stres yang tinggi atau stres ringan yang berkepanjangan akan membuat menurunnya kinerja karyawan. Stres ringan mungkin akan memberikan keuntungan bagi organisasi, tetapi dari sudut pandang individu hal tersebut bukan merupakan hal yang diinginkan. Maka manajemen mungkin akan berpikir untuk memberikan tugas yang menyertakan stres ringan bagi karyawan untuk memberikan dorongan bagi karyawan, namun sebaliknya itu akan dirasakan sebagai tekanan oleh si karyawan . Oleh sebab itu diperlukan pendekatan yang tepat dalam mengelola stres, ada dua pendekatan yaitu pendekatan individu dan pendekatan organisasi.
1. Pendekatan Individual
Seorang karyawan dapat berusaha sendiri untuk mcngurangi level stresnya. Strategi yang bersifat individual yang cukup efektif yaitu; pengelolaan waktu, latihan fisik, latihan relaksasi, dan dukungan sosial. Dengan pengelolaan waktu yang baik maka seorang karyawan dapat menyelesaikan tugas dengan baik, tanpa adanya tuntutan kerja yang tergesa-gesa. Dengan latihan fisik dapat meningkatkan kondisi tubuh agar lebih prima sehingga mampu menghadapi tuntutan tugas yang berat. Selain itu untuk mengurangi stres yang dihadapi pekerja perlu dilakukan kegiatan-kegiatan santai. Dan sebagai strategi terakhir untuk mengurangi stres adalah dengan mengumpulkan sahabat, kolega, keluarga yang akan dapat memberikan dukungan dan saran-saran bagi dirinya.
2. Pendekatan Organisasional
Beberapa penyebab stres adalah tuntutan dari tugas dan peran serta struktur organisasi yang semuanya dikendalikan oleh manajemen, sehingga faktor-faktor itu dapat diubah. Oleh karena itu strategi-strategi yang mungkin digunakan oleh manajemen untuk mengurangi stres karyawannya adalah melalui seleksi dan penempatan, penetapan tujuan, redesign pekerjaan, pengambilan keputusan partisipatif, komunikasi organisasional, dan program kesejahteraan. Melalui strategi tersebut akan menyebabkan karyawan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya dan mereka bekerja untuk tujuan yang mereka inginkan serta adanya hubungan interpersonal yang sehat serta perawatan terhadap kondisi fisik dan mental. Secara umum strategi manajemen stres kerja dapat dikelompokkan menjadi strategi penanganan individual, organisasional dan dukungan sosial.
Strategi Penanganan Individual bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: melakukan perubahan reaksi perilaku atau perubahan reaksi kognitif. Artinya, jika seorang karyawan merasa dirinya ada kenaikan ketegangan, para karyawan tersebut seharusnya time out terlebih dahulu. Cara time out ini bisa macam-macam, seperti istirahat sejenak namun masih dalam ruangan kerja, keluar ke ruang istirahat (jika menyediakan), pergi sebentar ke kamar kecil untuk membasuh muka air dingin atau berwudhu lalu sholat bagi orang Islam, dan sebagainya.
Karyawan juga dapat melakukan relaksasi dan meditasi. Kegiatan relaksasi dan meditasi ini bisa dilakukan di rumah pada malam hari atau hari-hari libur kerja. Dengan melakukan relaksasi, karyawan dapat membangkitkan perasaan rileks dan nyaman. Dengan demikian karyawan yang melakukan relaksasi diharapkan dapat mentransfer kemampuan dalam membangkitkan perasaan rileks ke dalam perusahaan di mana mereka mengalami situasi stres. Beberapa cara meditasi yang biasa dilakukan adalah dengan menutup atau memejamkan mata, menghilangkan pikiran yang mengganggu, kemudian perlahan-lahan mengucapkan doa. Melakukan diet dan fitnes juga bisa ditempuh yaitu dengan mengurangi masukan atau konsumsi garam dan makanan mengandung lemak, memperbanyak konsumsi makanan yang bervitamin seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, dan banyak melakukan olahraga, seperti lari secara rutin, tenis, bulu tangkis, dan sebagainya.
Strategi-strategi Penanganan Organisasi juga dapat didesain oleh manajemen untuk menghilangkan atau mengontrol penekan tingkat organisasional untuk mencegah atau mengurangi stres kerja untuk pekerja individual. Manajemen stres melalui organisasi dapat dilakukan dengan menciptakan iklim organisasional yang mendukung. Banyak organisasi besar saat ini cenderung memformulasi struktur birokratik yang tinggi dengan menyertakan infleksibel, iklim impersonal. Ini dapat membawa pada stres kerja. Sebuah strategi pengaturan mungkin membuat struktur tebih terdesentralisasi dan organik dengan pembuatan keputusan partisipatif dan aliran komunikasi ke atas. Perubahan struktur dan proses struktural mungkin menciptakan iklim yang lebih mendukung bagi pekerja, memberikan mereka lebih banyak kontrol terhadap pekerjaan mereka, dan mungkin mencegah atau mengurangi stres kerja mereka.
Perusahaan dapat memperkaya desain tugas-tugas dengan meningkatkan faktor isi pekerjaaan (seperti tanggung jawab, pengakuan, dan kesempatan untuk pencapaian, peningkatan, dan pertumbuhan) atau dengan meningkatkan karakteristik pekerjaan seperti variasi skill, identitas tugas, signifikansi tugas, otonomi, dan timbal balik sehingga membawa pada pernyataan motivasional atau pengalaman berani, tanggung jawab, pengetahuan hasil-hasil.
Konflik peran dan ketidakjelasan diidentifikasi lebih awal sebagai sebuah penekan individual utama. Ini mengacu pada manajemen untuk mengurangi konflik dan mengklarifikasi peran organisasional sehingga penyebab stres ini dapat dihilangkan atau dikurangi. Masing-masing pekerjaan mempunyai ekspektansi yang jelas dan penting atau sebuah pengertian yang ambigious dari apa yang dia kerjakan. Sebuah strategi klarifikasi peran yang spesifik memungkinkan seseorang mengambil sebuah peranan menemukan sebuah catatan ekspektansi dari masing-masing pengirim peran. Catatan ini kemudian akan dibandingkan dengan ekspektansi fokal seseorang, dan banyak perbedaan akan secara terbuka didiskusikan untuk mengklarifikasi ketidakjelasan dan negoisasikan untuk memecahkan konflik. Perusahaan juga dapat membuat Rencana pengembangan karir dan menyediakan konseling. Secara tradisional, organisasi hanya menunjukkan melalui kepentingan dalam perencanaan karir dan pengembangan karyawan . Individu dibiarkan untuk memutuskan gerakan dan strategi karir sendiri.
Untuk mengurangi stres kerja, dibutuhkan dukungan sosial terutama orang yang terdekat, seperti keluarga, teman sekerja, pemimpin atau orang lain. Agar diperoleh dukungan maksimal, dibutuhkan komunikasi yang baik pada semua pihak, sehingga dukungan sosial dapat diperoleh. Karyawan dapat mengajak berbicara orang lain tentang masalah yang dihadapi, atau setidaknya ada tempat mengadu atas keluh kesahnya.
skip to main |
skip to sidebar
Wednesday, September 8, 2010
Tuesday, September 7, 2010
TIP BERBURU PENGERTIAN MOTIVASI
Kalimat motivasi bukan hanya rangkaian huruf yang tanpa makna, akan tetapi merupakan rangkaian huruf yang disusun dan mempunyai makna yang positif.
Setiap kita membaca atau mendengar kalimat motivasi maka jiwa kita akan mendapatkan semangat baru dan merasakan semangat untuk terus melaju dijalan sukses.
Sering kita mendengar kata-kata negatif yang memojokan dan membuat kita “down”.
Kata-kata negatif seumpama racun, dimana setiap kali kita mendengarnya maka semangat kita akan tergerogoti yang lama-kelamaan akan membuat diri kita mati.
Tutuplah telinga terhadap kata-kata negatif dan bacalah baik-baik setiap inspirasi yang ada dalam halaman ini.
Setiap kita selesai membaca, maka kita akan merasakan akan ada semangat baru yang mendorong kita untuk terus maju menggapai segala impian kita.
Selamat membaca dan salam sukses.
01.
Motivasi itu seperti mandi, kalau Anda berhenti melakukannya maka Anda akan “melempem” lagi, sama seperti Anda akan bau lagi bila berhenti mandi.
(Zig Ziglar – Penulis Amerika)
02.
Anda mau terus bersedih dan berputus asa, atau memotivasi diri Anda sendiri, semua terserah Anda. Apapun yang harus dilakukan, itu selalu menjadi pilihan Anda sendiri.
(Wayne Dyer – Penulis, Pengajar dan Pembimbing Pengmebangan Kepribadian Amerika)
03.
Buatlah produk Anda terbaik, yang paling berguna dan yang termurah.
(Bill Gates)
04.
Saya tidak perlu menjadi seorang penemu, cukup menjadi peniru yang baik saja.
(Max Cooper – Pemilik 47 Waralaba Mc Donald’s)
05.
Bila Anda ingin hasil biasa, lakukanlah hal-hal yang biasa Anda lakukan. Bila Anda ingin hasil yang sedikit lebih baik, ubahlah perilaku dan sikap Anda. Tetapi bila Anda ingin hasil yang luar biasa ubahlah Pola Pikir Anda.
(Jamil Azzaini – Inspirator Indonesia)
06.
Sukses bermula dari pikiran kita. Sukses adalah kondisi pikiran kita. Bila Anda menginginkan sukses, maka Anda harus mulai berpikir bahwa Anda sukses, dan mengisi penuh pikiran Anda dengan kesuksesan.
(Dr.Joyce Brothers – Profesional Psikologi)
07.
Kurangnya rasa percaya diri adalah sumber penyebab dari segala kegagalan. Jika Anda tidak yakin dengan kekuatan yang Anda miliki, maka Anda lemah, meskipun sebenarnya Anda kuat.
(Chirstians Bovee – Politikus)
08.
Kegagalan hanyalah kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih cerdas.
(Hanry Ford – pendiri Ford Motor Company)
Setiap kita membaca atau mendengar kalimat motivasi maka jiwa kita akan mendapatkan semangat baru dan merasakan semangat untuk terus melaju dijalan sukses.
Sering kita mendengar kata-kata negatif yang memojokan dan membuat kita “down”.
Kata-kata negatif seumpama racun, dimana setiap kali kita mendengarnya maka semangat kita akan tergerogoti yang lama-kelamaan akan membuat diri kita mati.
Tutuplah telinga terhadap kata-kata negatif dan bacalah baik-baik setiap inspirasi yang ada dalam halaman ini.
Setiap kita selesai membaca, maka kita akan merasakan akan ada semangat baru yang mendorong kita untuk terus maju menggapai segala impian kita.
Selamat membaca dan salam sukses.
01.
Motivasi itu seperti mandi, kalau Anda berhenti melakukannya maka Anda akan “melempem” lagi, sama seperti Anda akan bau lagi bila berhenti mandi.
(Zig Ziglar – Penulis Amerika)
02.
Anda mau terus bersedih dan berputus asa, atau memotivasi diri Anda sendiri, semua terserah Anda. Apapun yang harus dilakukan, itu selalu menjadi pilihan Anda sendiri.
(Wayne Dyer – Penulis, Pengajar dan Pembimbing Pengmebangan Kepribadian Amerika)
03.
Buatlah produk Anda terbaik, yang paling berguna dan yang termurah.
(Bill Gates)
04.
Saya tidak perlu menjadi seorang penemu, cukup menjadi peniru yang baik saja.
(Max Cooper – Pemilik 47 Waralaba Mc Donald’s)
05.
Bila Anda ingin hasil biasa, lakukanlah hal-hal yang biasa Anda lakukan. Bila Anda ingin hasil yang sedikit lebih baik, ubahlah perilaku dan sikap Anda. Tetapi bila Anda ingin hasil yang luar biasa ubahlah Pola Pikir Anda.
(Jamil Azzaini – Inspirator Indonesia)
06.
Sukses bermula dari pikiran kita. Sukses adalah kondisi pikiran kita. Bila Anda menginginkan sukses, maka Anda harus mulai berpikir bahwa Anda sukses, dan mengisi penuh pikiran Anda dengan kesuksesan.
(Dr.Joyce Brothers – Profesional Psikologi)
07.
Kurangnya rasa percaya diri adalah sumber penyebab dari segala kegagalan. Jika Anda tidak yakin dengan kekuatan yang Anda miliki, maka Anda lemah, meskipun sebenarnya Anda kuat.
(Chirstians Bovee – Politikus)
08.
Kegagalan hanyalah kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih cerdas.
(Hanry Ford – pendiri Ford Motor Company)
TIP BERBURU MEMBANGKITKAN TEKAD MEMBUKA USAHA SAMPINGAN
Membuka usaha sampingan biasanya merupakan cara yang cukup baik untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Dengan membuka usaha sampingan, pertama-tama mungkin harus terlibat penuh didalamnya. Tapi lama kelamaan, bila usaha itu sudah besar, bisa diserahkan pengelolaannya pada orang lain, sehingga bisa punya lebih banyak waktu dan pemasukanpun dapat terus berjalan.
Bandingkan dengan apabila bekerja pada orang lain dan bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian. Bekerja pada orang lain jelas harus mengikuti jam kerja yang disyaratkan. Sedangkan bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian, biasanya bisa menentukan waktu kerja sendiri, tapi tetap saja kedua-duanya akan membuat sibuk .
PENGHASILAN BISA BESAR
Jangan salah kira, usaha sampingan, apabila dijalankan dengan sungguh-sungguh bisa memberikan hasil yang sama bahkan lebih besar dibanding bila bekerja dan mendapatkan gaji.
Sebagai contoh:
Tukang sate yang berjualan di dekat rumah kita. Setiap hari, dari jam 17.00 – 24.00 (7 jam kerja), ia bisa menjual sekitar 250 tusuk sate ayam. Kalau satu tusuk dihargai Rp 400, maka ini berarti ia mendapatkan Rp 100 ribu sehari. Dalam sebulan, ia bisa bekerja sekitar 25 hari. Ini berarti pemasukannya sebulan mencapai Rp 2,5 juta. Apakah kita pernah tanya berapa sih keuntungannya dari Rp 2,5 juta itu? Dia bilang sekitar 60 persen. Ini berarti keuntungannya adalah Rp 1,5 juta setiap bulan. Itu belum termasuk keuntungan dari penjualan lontongnya.
Tentu saja kita tidak harus jadi penjual sate bila kita memang tidak mau. Kita bisa membuka usaha lain yang mungkin lebih kita kuasai seluk-beluknya. Prinsipnya di sini adalah apa pun usahanya, kalau kita jalankan dengan serius, maka hasilnya akan besar.
Pada awalnya yang namanya usaha mungkin tidak akan selalu berjalan lancar. Penghasilannya mungkin belum seberapa. Itu karena usaha kita mungkin belum dikenal orang banyak. Namanya juga masih baru. Lama kelamaan, seiring dengan makin dikenalnya usaha kita, usaha kita pasti akan mulai berkembang, sehingga hasil yang kita dapatkan juga akan makin besar.
Tukang sate tadi misalnya.
Pertama kali ia membawa dagangannya, orang mungkin masih ragu-ragu untuk mencoba satenya, karena orang baru pertama kali melihat tukang sate ini. Tapi lama kelamaan, orang mulai memesan satenya, dan akhirnya orang ini identik dengan sate. Setiap kali ia lewat di depan rumah kita, kita langsung teringat akan satenya. Itu bukti bahwa usaha apa pun membutuhkan pengenalan.
Orang harus kenal lebih dulu dengan usaha kita, apa pun usaha itu. Entah toko, entah restoran kecil, entah usaha jahitan atau bisnis online. Mungkin pengenalannya makan waktu satu tahun, dua tahun, atau mungkin hanya beberapa bulan, tergantung bagaimana promosi kita. Setelah kenal, barulah selebihnya tergantung pada kualitas produk kita. Bila sekali saja konsumen tak suka, seterusnya mereka kapok membeli produk kita. Apa pun jenisnya.
Karena itu, kita juga harus menjaga kualitas produk agar sesuai keinginan konsumen.
TIDAK HARUS MENINGGALKAN PEKERJAAN
Siapa bilang bahwa kita harus meninggalkan pekerjaan tetap sekarang bila kita mau menjalankan usaha sampingan? Kita tidak harus meninggalkan pekerjaan tetap kita sementara akan menjalankan usaha sampingan.
Hitung-hitung, kita nantinya akan punya pendapatan yang dobel bukan?
Pertama-tama, mungkin pendapatan usaha sampingan kita masih jauh lebih kecil dibanding gaji dari pekerjaan kita sekarang. Tetapi lama-lama, seiring dengan makin dikenalnya usaha kita dan makin maju, maka pendapatan usaha kita akan meningkat dan bahkan bisa menyamai gaji kita sekarang. Kemudian, siapa tahu juga bisa meningkat lagi dan melebihi gaji kita sekarang.
Sehingga pada kondisi ini, kita memiliki pilihan apakah akan mempertahankan kedua pendapatan, atau meninggalkan pekerjaan tetap kita dan terjun total 100 persen ke dalam usaha sampingan kita dengan harapan agar penghasilan dari usaha kita bisa makin besar.
Bagi yang menjadi ibu rumah tangga dan hanya suami yang bekerja, mungkin bisa lebih enak lagi. Dapat merintis usaha sampingan, sementara suami tetap mendapatkan gaji dari pekerjaannya.
Bukan begitu?
SIAP MELUANGKAN WAKTU
Kalau kita menjalankan usaha sambil masih tetap bekerja, maka kita harus siap meluangkan waktu. Bagi yang menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga, harus siap menyisihkan sekitar mungkin 4 jam setiap hari untuk mengurus usaha. Bagi yang juga bekerja di kantor, mungkin harus siap menjalankan usaha pada malam hari.
Terserah kita.
Yang jelas, kita harus memiliki komitmen untuk mau menjalankan usaha, dan jangan kaget kalau nanti akan lebih capek dari biasanya. Ini wajar, karena menjalankan dua pekerjaan sekaligus.
Tapi apa yang membuat kita mau lebih capek dari biasanya?
Apa yang membuat kita mau repot-repot menjalankan usaha kita?
Ini karena kita ingin agar usaha sampingan kita bisa berkembang kelak dan pengelolaannya bisa kita serahkan ke orang lain sehingga kita bisa punya lebih banyak waktu untuk santai bersama keluarga kelak sementara tetap mendapatkan penghasilan.
Jadi, kita investasi waktu (mau lebih sibuk) sekarang, dengan harapan agar kita mendapatkan waktu yang lebih banyak kelak.
Jadi, sesibuk apa pun sekarang, kenapa kita tidak luangkan waktu untuk merintis sebuah usaha?
PERLU DUKUNGAN KELUARGA
Minta dukungan dari keluarga kita. Kalau perlu, ajak untuk ikut membantu. Libatkan dari awal. Dengan demikian, keluarga bisa ikut berperan dalam usaha sampingan. Dukungan keluarga itu penting. Banyak usaha rumahan yang gagal karena tidak adanya dukungan keluarga.
Bukan berarti kita tidak akan berhasil dalam usaha sampingan bila tidak didukung keluarga, tapi memang akan sangat membantu kalau keluarga kita ikut mendukung usaha. Kalau perlu, jangan katakan bahwa ini adalah usaha kita. Katakan bahwa ini adalah usaha keluarga. Kelak kalau usaha ini besar, keluarga kita bisa ikut terlibat di dalamnya.
Bukankah akan mengasyikkan bila keluarga bekerja bersama membangun usaha keluarga?
TIDAK HARUS SEKOLAH TINGGI
Apakah kita adalah salah satu dari mereka yang tidak mengenyam sekolah tinggi? Apakah kita cuma lulusan SMP? Apakah kita cuma lulusan SMEA? Atau apakah kita sama sekali tidak pernah sekolah dan hanya punya pengalaman?
Kita tidak harus mengenyam sekolah tinggi lebih dulu untuk bisa membuka usaha dan berhasil dalam usaha. Kita sudah sering mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ada banyak orang berhasil dalam membangun usahanya dari nol, meski tidak memiliki pendidikan tinggi..
Apa resepnya sehingga bisa berhasil?
Ketekunan dan motivasi untuk bisa berhasil. Yang lebih penting, walaupun tidak sekolah tinggi mau belajar. Belajar tidak harus ditempuh dengan sekolah. Kita bisa belajar dari pengalaman sendiri, dari buku, dan dari pengalaman orang lain (baik keberhasilan maupun kegagalannya). Satu lagi, kita mau memulai usaha dari kecil lebih dulu, sebelum lama-lama usaha itu menjadi besar.
Percayalah, kita punya kesempatan yang sama dengan mereka yang sudah berhasil untuk bisa berhasil, walaupun kita tidak memiliki pendidikan tinggi sekalipun.
Jadi tunggu apa lagi?
Tetapkan tekad untuk membuka usaha sampingan. Sekarang juga.
Bandingkan dengan apabila bekerja pada orang lain dan bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian. Bekerja pada orang lain jelas harus mengikuti jam kerja yang disyaratkan. Sedangkan bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian, biasanya bisa menentukan waktu kerja sendiri, tapi tetap saja kedua-duanya akan membuat sibuk .
PENGHASILAN BISA BESAR
Jangan salah kira, usaha sampingan, apabila dijalankan dengan sungguh-sungguh bisa memberikan hasil yang sama bahkan lebih besar dibanding bila bekerja dan mendapatkan gaji.
Sebagai contoh:
Tukang sate yang berjualan di dekat rumah kita. Setiap hari, dari jam 17.00 – 24.00 (7 jam kerja), ia bisa menjual sekitar 250 tusuk sate ayam. Kalau satu tusuk dihargai Rp 400, maka ini berarti ia mendapatkan Rp 100 ribu sehari. Dalam sebulan, ia bisa bekerja sekitar 25 hari. Ini berarti pemasukannya sebulan mencapai Rp 2,5 juta. Apakah kita pernah tanya berapa sih keuntungannya dari Rp 2,5 juta itu? Dia bilang sekitar 60 persen. Ini berarti keuntungannya adalah Rp 1,5 juta setiap bulan. Itu belum termasuk keuntungan dari penjualan lontongnya.
Tentu saja kita tidak harus jadi penjual sate bila kita memang tidak mau. Kita bisa membuka usaha lain yang mungkin lebih kita kuasai seluk-beluknya. Prinsipnya di sini adalah apa pun usahanya, kalau kita jalankan dengan serius, maka hasilnya akan besar.
Pada awalnya yang namanya usaha mungkin tidak akan selalu berjalan lancar. Penghasilannya mungkin belum seberapa. Itu karena usaha kita mungkin belum dikenal orang banyak. Namanya juga masih baru. Lama kelamaan, seiring dengan makin dikenalnya usaha kita, usaha kita pasti akan mulai berkembang, sehingga hasil yang kita dapatkan juga akan makin besar.
Tukang sate tadi misalnya.
Pertama kali ia membawa dagangannya, orang mungkin masih ragu-ragu untuk mencoba satenya, karena orang baru pertama kali melihat tukang sate ini. Tapi lama kelamaan, orang mulai memesan satenya, dan akhirnya orang ini identik dengan sate. Setiap kali ia lewat di depan rumah kita, kita langsung teringat akan satenya. Itu bukti bahwa usaha apa pun membutuhkan pengenalan.
Orang harus kenal lebih dulu dengan usaha kita, apa pun usaha itu. Entah toko, entah restoran kecil, entah usaha jahitan atau bisnis online. Mungkin pengenalannya makan waktu satu tahun, dua tahun, atau mungkin hanya beberapa bulan, tergantung bagaimana promosi kita. Setelah kenal, barulah selebihnya tergantung pada kualitas produk kita. Bila sekali saja konsumen tak suka, seterusnya mereka kapok membeli produk kita. Apa pun jenisnya.
Karena itu, kita juga harus menjaga kualitas produk agar sesuai keinginan konsumen.
TIDAK HARUS MENINGGALKAN PEKERJAAN
Siapa bilang bahwa kita harus meninggalkan pekerjaan tetap sekarang bila kita mau menjalankan usaha sampingan? Kita tidak harus meninggalkan pekerjaan tetap kita sementara akan menjalankan usaha sampingan.
Hitung-hitung, kita nantinya akan punya pendapatan yang dobel bukan?
Pertama-tama, mungkin pendapatan usaha sampingan kita masih jauh lebih kecil dibanding gaji dari pekerjaan kita sekarang. Tetapi lama-lama, seiring dengan makin dikenalnya usaha kita dan makin maju, maka pendapatan usaha kita akan meningkat dan bahkan bisa menyamai gaji kita sekarang. Kemudian, siapa tahu juga bisa meningkat lagi dan melebihi gaji kita sekarang.
Sehingga pada kondisi ini, kita memiliki pilihan apakah akan mempertahankan kedua pendapatan, atau meninggalkan pekerjaan tetap kita dan terjun total 100 persen ke dalam usaha sampingan kita dengan harapan agar penghasilan dari usaha kita bisa makin besar.
Bagi yang menjadi ibu rumah tangga dan hanya suami yang bekerja, mungkin bisa lebih enak lagi. Dapat merintis usaha sampingan, sementara suami tetap mendapatkan gaji dari pekerjaannya.
Bukan begitu?
SIAP MELUANGKAN WAKTU
Kalau kita menjalankan usaha sambil masih tetap bekerja, maka kita harus siap meluangkan waktu. Bagi yang menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga, harus siap menyisihkan sekitar mungkin 4 jam setiap hari untuk mengurus usaha. Bagi yang juga bekerja di kantor, mungkin harus siap menjalankan usaha pada malam hari.
Terserah kita.
Yang jelas, kita harus memiliki komitmen untuk mau menjalankan usaha, dan jangan kaget kalau nanti akan lebih capek dari biasanya. Ini wajar, karena menjalankan dua pekerjaan sekaligus.
Tapi apa yang membuat kita mau lebih capek dari biasanya?
Apa yang membuat kita mau repot-repot menjalankan usaha kita?
Ini karena kita ingin agar usaha sampingan kita bisa berkembang kelak dan pengelolaannya bisa kita serahkan ke orang lain sehingga kita bisa punya lebih banyak waktu untuk santai bersama keluarga kelak sementara tetap mendapatkan penghasilan.
Jadi, kita investasi waktu (mau lebih sibuk) sekarang, dengan harapan agar kita mendapatkan waktu yang lebih banyak kelak.
Jadi, sesibuk apa pun sekarang, kenapa kita tidak luangkan waktu untuk merintis sebuah usaha?
PERLU DUKUNGAN KELUARGA
Minta dukungan dari keluarga kita. Kalau perlu, ajak untuk ikut membantu. Libatkan dari awal. Dengan demikian, keluarga bisa ikut berperan dalam usaha sampingan. Dukungan keluarga itu penting. Banyak usaha rumahan yang gagal karena tidak adanya dukungan keluarga.
Bukan berarti kita tidak akan berhasil dalam usaha sampingan bila tidak didukung keluarga, tapi memang akan sangat membantu kalau keluarga kita ikut mendukung usaha. Kalau perlu, jangan katakan bahwa ini adalah usaha kita. Katakan bahwa ini adalah usaha keluarga. Kelak kalau usaha ini besar, keluarga kita bisa ikut terlibat di dalamnya.
Bukankah akan mengasyikkan bila keluarga bekerja bersama membangun usaha keluarga?
TIDAK HARUS SEKOLAH TINGGI
Apakah kita adalah salah satu dari mereka yang tidak mengenyam sekolah tinggi? Apakah kita cuma lulusan SMP? Apakah kita cuma lulusan SMEA? Atau apakah kita sama sekali tidak pernah sekolah dan hanya punya pengalaman?
Kita tidak harus mengenyam sekolah tinggi lebih dulu untuk bisa membuka usaha dan berhasil dalam usaha. Kita sudah sering mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ada banyak orang berhasil dalam membangun usahanya dari nol, meski tidak memiliki pendidikan tinggi..
Apa resepnya sehingga bisa berhasil?
Ketekunan dan motivasi untuk bisa berhasil. Yang lebih penting, walaupun tidak sekolah tinggi mau belajar. Belajar tidak harus ditempuh dengan sekolah. Kita bisa belajar dari pengalaman sendiri, dari buku, dan dari pengalaman orang lain (baik keberhasilan maupun kegagalannya). Satu lagi, kita mau memulai usaha dari kecil lebih dulu, sebelum lama-lama usaha itu menjadi besar.
Percayalah, kita punya kesempatan yang sama dengan mereka yang sudah berhasil untuk bisa berhasil, walaupun kita tidak memiliki pendidikan tinggi sekalipun.
Jadi tunggu apa lagi?
Tetapkan tekad untuk membuka usaha sampingan. Sekarang juga.
TIP BERBURU MENANGKAP PELUANG
BAGI kebanyakan orang, istilah “Menangkap Peluang” mungkin terlalu klise. Namun hal itu selalu diulang-ulang oleh para motivator dan menjadi bahan perdebatan yang tiada habisnya di dunia kewirausahaan.
Apa sebabnya?
Karena teorinya memang gampang, tapi prakteknya bisa nol besar. Sekolah tidak pernah mengajarkan hal-hal seperti ini. Kita mungkin hanya bisa mendapatkan pelajaran ini dari pengalaman atau dari para praktisi yang telah sukses di bidangnya.
Kenalan saya seorang insinyur, hidup makmur dari tahi ayam. Kakak kelas saya seorang sarjana hukum, jadi juragan bakso dengan penghasilan minimal Rp 1,8 juta/hari. Rekan satu angkatan saya seorang sarjana hukum sukses menjadi sales mobil dan sekarang sudah mampu membeli rumah gaya mediteranian dari hasil kerja kerasnya. Saya angkat topi kepada mereka, tidak saja karena kejeliannya menangkap peluang, namun juga karena keberaniannya melawan arus. Saat teman-temannya masih bersantai menikmati masa kuliah dan kelulusannya, mereka telah berjibaku mengadu nasib mencari sesuap nasi dengan berbagai cemoohan dan pandangan sebelah mata pada awalnya.
Peluang bisa diciptakan, tapi bisa juga sudah disediakan oleh alam.
Tahi ayam termasuk peluang yang disediakan oleh alam. Tinggal bagaimana caranya kita mengelola menjadi bahan-bahan yang berguna, misalnya pupuk.
Bakso adalah peluang yang diciptakan. Makanan ini bisa laku di mana saja, asalkan ada resep yang mampu mewakili cita rasa tertentu dan pemilihan tempat berjualan yang strategis.
Sales adalah peluang wirausaha yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan besar bagi para fresh graduate atau orang-orang yang memiliki jiwa entrepreneurship atau intrapreneurship namun belum atau tidak mampu mendirikan perusahaan sendiri.
Sikap yang positif, tidak kenal menyerah dan memiliki prinsip serta konsistensi terhadap hasil adalah kuncinya.
Menangkap peluang membutuhkan kejelian panca indera kita dan kemampuan untuk berpikir cerdas (bukan pandai!).
Banyak sekali potensi yang dapat kita olah, misalnya limbah botol air mineral bisa dijadikan barang-barang kerajinan, tanaman obat tradisional perlu sentuhan-sentuhan manajemen modern (lihat keberhasilan produsen-produsen pengolah buah pace saat ini!), tanah kosong dan tidak produktif dapat dijual dalam bentuk kapling, dsb. Bahkan batu putih Gunung Kidul yang dulunya tidak bernilai, sekarang bisa memiliki nilai lebih setelah dipahat, diukir menjadi barang-barang yang fungsional, seperti asbak, tempat lilin, patung, rilief, air mancur, dsb.
Potensi-potensi seperti itu hanya bisa menghasilkan apabila diolah dengan kreativitas dan inovasi daya pikir kita.
Potensi lain yang mudah dikenali adalah potensi diri.
Kita masing-masing memiliki keahlian khusus yang bisa dimanfaatkan untuk menyambung hidup. Rekan saya memiliki keahlian membuat jamu, tapi ia kurang modal. Akhirnya ia bikin sampel, pinjam uang untuk mempatenkan temuannya dan bekerja sama dengan pabrik jamu besar untuk memproduksinya. Ia tinggal menerima royalti saja. Saya hobi menulis sejak kecil, ide-ide banyak, tapi tidak semuanya bisa saya realisasikan. Akhirnya saya bikin kolom ini, ide-ide saya bisa dimanfaatkan bagi yang membutuhkan, saya mendapat honor untuk menambah uang beli kertas.
Nah, bagaimana dengan Anda?
Coba kenalilah potensi diri yang Anda punya.Gunakanlah untuk menangkap dan mengembangkan peluang yang tersedia di sekitar kita. Syaratnya cuma dua: Tekun dan Sabarlah terhadap proses! Jangan suka berpikiran instan.
Selamat Berjuang!
Ref: *) Suryono Ekotama, SH, Management & Legal Advisor Ekatama Consultant, Direktur US Art Export & Trading Co, Mahasiswa Pascasarjana UGM.
Apa sebabnya?
Karena teorinya memang gampang, tapi prakteknya bisa nol besar. Sekolah tidak pernah mengajarkan hal-hal seperti ini. Kita mungkin hanya bisa mendapatkan pelajaran ini dari pengalaman atau dari para praktisi yang telah sukses di bidangnya.
Kenalan saya seorang insinyur, hidup makmur dari tahi ayam. Kakak kelas saya seorang sarjana hukum, jadi juragan bakso dengan penghasilan minimal Rp 1,8 juta/hari. Rekan satu angkatan saya seorang sarjana hukum sukses menjadi sales mobil dan sekarang sudah mampu membeli rumah gaya mediteranian dari hasil kerja kerasnya. Saya angkat topi kepada mereka, tidak saja karena kejeliannya menangkap peluang, namun juga karena keberaniannya melawan arus. Saat teman-temannya masih bersantai menikmati masa kuliah dan kelulusannya, mereka telah berjibaku mengadu nasib mencari sesuap nasi dengan berbagai cemoohan dan pandangan sebelah mata pada awalnya.
Peluang bisa diciptakan, tapi bisa juga sudah disediakan oleh alam.
Tahi ayam termasuk peluang yang disediakan oleh alam. Tinggal bagaimana caranya kita mengelola menjadi bahan-bahan yang berguna, misalnya pupuk.
Bakso adalah peluang yang diciptakan. Makanan ini bisa laku di mana saja, asalkan ada resep yang mampu mewakili cita rasa tertentu dan pemilihan tempat berjualan yang strategis.
Sales adalah peluang wirausaha yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan besar bagi para fresh graduate atau orang-orang yang memiliki jiwa entrepreneurship atau intrapreneurship namun belum atau tidak mampu mendirikan perusahaan sendiri.
Sikap yang positif, tidak kenal menyerah dan memiliki prinsip serta konsistensi terhadap hasil adalah kuncinya.
Menangkap peluang membutuhkan kejelian panca indera kita dan kemampuan untuk berpikir cerdas (bukan pandai!).
Banyak sekali potensi yang dapat kita olah, misalnya limbah botol air mineral bisa dijadikan barang-barang kerajinan, tanaman obat tradisional perlu sentuhan-sentuhan manajemen modern (lihat keberhasilan produsen-produsen pengolah buah pace saat ini!), tanah kosong dan tidak produktif dapat dijual dalam bentuk kapling, dsb. Bahkan batu putih Gunung Kidul yang dulunya tidak bernilai, sekarang bisa memiliki nilai lebih setelah dipahat, diukir menjadi barang-barang yang fungsional, seperti asbak, tempat lilin, patung, rilief, air mancur, dsb.
Potensi-potensi seperti itu hanya bisa menghasilkan apabila diolah dengan kreativitas dan inovasi daya pikir kita.
Potensi lain yang mudah dikenali adalah potensi diri.
Kita masing-masing memiliki keahlian khusus yang bisa dimanfaatkan untuk menyambung hidup. Rekan saya memiliki keahlian membuat jamu, tapi ia kurang modal. Akhirnya ia bikin sampel, pinjam uang untuk mempatenkan temuannya dan bekerja sama dengan pabrik jamu besar untuk memproduksinya. Ia tinggal menerima royalti saja. Saya hobi menulis sejak kecil, ide-ide banyak, tapi tidak semuanya bisa saya realisasikan. Akhirnya saya bikin kolom ini, ide-ide saya bisa dimanfaatkan bagi yang membutuhkan, saya mendapat honor untuk menambah uang beli kertas.
Nah, bagaimana dengan Anda?
Coba kenalilah potensi diri yang Anda punya.Gunakanlah untuk menangkap dan mengembangkan peluang yang tersedia di sekitar kita. Syaratnya cuma dua: Tekun dan Sabarlah terhadap proses! Jangan suka berpikiran instan.
Selamat Berjuang!
Ref: *) Suryono Ekotama, SH, Management & Legal Advisor Ekatama Consultant, Direktur US Art Export & Trading Co, Mahasiswa Pascasarjana UGM.
TIP BERBURU MENGATASI RASA MALAS
Malas adalah penyakit mental. Siapa dihinggapi rasa malas, sukses pasti jauh dari gapaian. Rasa malas diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan.
Masuk dalam keluarga besar rasa malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan, suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban, dll. Jika keluarga besar dari rasa malas ini mudah sekali muncul dalam aktivitas sehari-hari kita, maka dijamin kinerja kita akan jauh menurun. Bahkan bisa jadi kita tidak pernah bisa mencapai sesuatu yang lebih baik sebagaimana yang kita inginkan.
Rasa malas sejatinya merupakan sejenis penyakit mental.
Mengapa disebut penyakit mental?
Disebut demikian karena akibat buruk dari rasa malas memang sangat merugikan. Siapa pun yang dihinggapi rasa malas akan kacau kinerjanya dan ini jelas-jelas sangat merugikan. Sukses dalam karir, bisnis, dan kehidupan umumnya tidak pernah datang pada orang yang malas. Masyarakat yang dipenuhi oleh individu-individu yang malas tidak jelas tidak akan pernah maju.
Rasa malas juga menggambarkan hilangnya motivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan atau apa yang sesungguhnya dia inginkan. Rasa malas jenis yang satu ini relatif lebih bisa ditanggulangi.
Nah, bagaimana cara mengatasinya?
1. Membuat Tujuan. Orang yang malas biasanya tidak memiliki motivasi untuk berkembang ke arah kehidupan yang lebih baik. Sementara orang yang tidak memiliki motivasi biasanya tidak memiliki tujuan-tujuan hidup yang pantas dan layak untuk diraih. Dan orang yang tidak memiliki tujuan-tujuan hidup, biasanya sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah menuliskan resolusi atau komitmen-komitmen pencapaian hidup.
Di sinilah pangkal persoalannya.
Tanpa tujuan, resolusi, atau komitmen-komitmen pencapaian hidup, maka seseorang hanya bergerak secara naluriah dan sangat rentan diombang-ambingkan situasi di sekelilingnya. Posisi seperti ini membuatnya menjadi pasif, menunggu, tergantung pada situasi, dan cenderung menyerah pada nasib. Dalam keadaan seperti ini, tidak akan ada motivasi untuk meraih atau mencapai sesuatu. Tidak adanya sumber-sumber motivasi hidup menyebabkan kemalasan.
Supaya motivasi muncul, seseorang harus berani memutuskan tujuan-tujuan hidupnya.
Menurut Andrias Harefa dalam bukunya Agenda Refleksi dan Tindakan Untuk Hidup Yang Lebih Baik (GPU, 2004), dia harus membuat komitmen atas apa saja yang ingin diselesaikan, dicapai, dimiliki, dilakukan, dan dinikmati (disingkat secamilanik).
Contoh komitmen;
“pada ulang tahun yang ke …. saya sudah harus menyelesaikan buku yang saya tulis, meraih promosi pekerjaan, mencapai gelar S-3, memiliki rumah dan mobil, melakukan sejumlah kunjungan ke mancanegara, dan menikmati kebahagiaan bersama keluarga.”
2. Mengasah Kemampuan. Orang yang memiliki tujuan-tujuan hidup yang pasti, membuat resolusi dan komitmen-komitmen pencapaian biasanya memiliki motivasi tinggi. Tetapi tujuan yang samar-samar jelas tidak memberikan dampak motivasional yang signifikan. Nah, akan lebih baik lagi jika tujuan-tujuan dilengkapi dengan aktivitas-aktivitas pembelajaran, seperti mencari cara-cara yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Kita juga perlu sekali mengasah kemampuan atau ketrampilan-ketrampilan supaya langkah-langkah yang diambil itu akan membawa kita pada pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.
Contoh; jika pada tahun yang sudah ditargetkan kita ingin menjadi konsultan, maka sejak sekarang aktivitas-aktivitas kita sudah harus difokuskan ke arah tujuan tersebut. Kita harus terus mengasah kemampuan mendiagnosa masalah, menemukan penyebab, menganalisis, mengkomunikasikan gagasan, menawarkan solusi, dan memperbaiki kemampuan presentasi.
Jika aktivitas-aktivitas pembelajaran itu dilakukan secara konsisten dan dengan komitmen sepenuhnya, maka kita telah berada di jalur yang benar. Aktivitas-aktivitas pembelajaran akan menempatkan kita pada posisi dan lingkungan yang dinamis. Kemampuan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah juga akan meningkat. Dengan sendirinya ini akan semakin memperkuat rasa percaya diri kita, menebalkan komitmen pencapaian tujuan, dan tentu saja menumbuhkan semangat.
Sebaliknya, jika kita sama sekali menolak aktivitas-aktivitas pembelajaran, komitmen akan semakin melemah, semangat turun, dan kemalasan akan datang dengan cepat. Pada titik ini, tujuan-tujuan, resolusi atau komitmen yang sudah kita buat sudah tidak memiliki arti lagi. Sayang sekali.
3. Pergaulan Dinamis. Para pemenang berkumpul dengan sesama pemenang, sementara para pecundang cenderung berkumpul dengan sesama pecundang. Ungkapan tersebut mengandung kebenaran. Sulit sekali bagi seorang pemalas untuk hidup di lingkungan para pemenang. Sulit bagi orang malas untuk berada secara nyaman di tengah-tengah orang yang sangat optimis, sibuk, giat bekerja, dan bersemangat mengejar prestasi. Demikian sebaliknya. Sulit sekali bagi para high achiever untuk betah berlama-lama dengan para orang malas dan pesimistik.
Situasi atau lingkungan di mana kita berada sungguh ada pengaruhnya. Orang yang mulai dihinggapi rasa malas sangat dianjurkan agar menjauhi mereka yang juga mulai diserang kebosanan, putus asa, rasa enggan, apalagi negative thinking. Sepintas, berkeluh kesah dengan mereka dengan orang-orang seperti itu dapat melegakan hati. Ada semacam rasa pelepasan dari belenggu psikologis. Walau demikian, dalam situasi malas sedang menyerang, mendekati orang-orang yang sedang down sama sekali tidak menolong satu sama lain. Rasa malas dan kebuntuan justru bisa tambah menjadi-jadi. Ini bisa menjerumuskan masing-masing pihak pada pesimisme, keputusasaan, dan kemalasan total.
Jika rasa malas mulai menyerbu kita, jangan berlama-lama duduk berdiam diri. Cara paling ampuh menghilangkan kemalasan adalah bangkit berdiri dan menghampiri orang-orang yang sedang tekun dan bersemangat melakukan sesuatu. Dekati mereka yang sedang bekerja keras untuk meraih impian-impiannya. Manusia-manusia optimis, self-motivated, punya ambisi, positive thinking, dan memiliki tujuan hidup pasti, umumnya memancarkan aura positif kepada apa pun dan siapa pun di sekelilingnya. Pancaran optimisme dan semangat itulah yang bisa menginspirasi orang lain, bahkan menularkan semangat yang sama sehingga orang lain jadi ikut tergerak.
4. Disiplin Diri. Ada sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya dari Andrie Wongso, Motivator No.1 Indonesia, yang bunyinya;
“Jika kita lunak di dalam, maka dunia luar akan keras kepada kita. Tapi jika kita keras di dalam, maka dunia luar akan lunak kepada kita”.
Kata-kata mutiara yang luar biasa ini menegaskan, bahwa jika kita mau bersikap keras pada diri sendiri, dalam arti menempa rasa disiplin dalam berbagai hal, maka banyak hal akan bisa kita kerjakan dengan baik.
Sikap keras pada diri sendiri atau disiplin itulah yang umumnya membawa kesuksesan bagi karir para olahragawan dan pekerja profesional yang memang menuntut sikap disiplin dalam banyak hal.
Bayangkan, bagaimana seorang atlet bisa menjadi juara jika dia tidak disiplin berlatih? Bagaimana mungkin ada pekerja profesional yang bagus karirnya jika dia sering mangkir atau bolos kerja?
Sebaliknya, jika kita terlalu lunak atau memanjakan diri sendiri, memelihara kemalasan, mentolerir kinerja buruk, tidak merasa bersalah jika lalai atau gagal dalam tugas, maka dunia luar akan sangat tidak bersahabat.
Olahragawan yang manja pasti tidak akan pernah jadi juara. Seorang sales yang malas tidak akan pernah besar penjualannya. Seorang konsultan yang menolerir kinerja buruk pasti ditinggalkan kliennya. Dan pekerja yang tidak disiplin pasti mudah jadi sasaran PHK.
Jika kita lunak pada diri sendiri, maka dunia akan keras pada kita.
Rasa malas jelas merugikan. Obat mujarabnya adalah menumbuhkan kebiasaan mendisiplinkan diri dan menjaga kebiasaan positif tersebut.
Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar, jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau Anda ingin sukses, jangan mempermudah munculnya rasa malas.
Masuk dalam keluarga besar rasa malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan, suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban, dll. Jika keluarga besar dari rasa malas ini mudah sekali muncul dalam aktivitas sehari-hari kita, maka dijamin kinerja kita akan jauh menurun. Bahkan bisa jadi kita tidak pernah bisa mencapai sesuatu yang lebih baik sebagaimana yang kita inginkan.
Rasa malas sejatinya merupakan sejenis penyakit mental.
Mengapa disebut penyakit mental?
Disebut demikian karena akibat buruk dari rasa malas memang sangat merugikan. Siapa pun yang dihinggapi rasa malas akan kacau kinerjanya dan ini jelas-jelas sangat merugikan. Sukses dalam karir, bisnis, dan kehidupan umumnya tidak pernah datang pada orang yang malas. Masyarakat yang dipenuhi oleh individu-individu yang malas tidak jelas tidak akan pernah maju.
Rasa malas juga menggambarkan hilangnya motivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan atau apa yang sesungguhnya dia inginkan. Rasa malas jenis yang satu ini relatif lebih bisa ditanggulangi.
Nah, bagaimana cara mengatasinya?
1. Membuat Tujuan. Orang yang malas biasanya tidak memiliki motivasi untuk berkembang ke arah kehidupan yang lebih baik. Sementara orang yang tidak memiliki motivasi biasanya tidak memiliki tujuan-tujuan hidup yang pantas dan layak untuk diraih. Dan orang yang tidak memiliki tujuan-tujuan hidup, biasanya sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah menuliskan resolusi atau komitmen-komitmen pencapaian hidup.
Di sinilah pangkal persoalannya.
Tanpa tujuan, resolusi, atau komitmen-komitmen pencapaian hidup, maka seseorang hanya bergerak secara naluriah dan sangat rentan diombang-ambingkan situasi di sekelilingnya. Posisi seperti ini membuatnya menjadi pasif, menunggu, tergantung pada situasi, dan cenderung menyerah pada nasib. Dalam keadaan seperti ini, tidak akan ada motivasi untuk meraih atau mencapai sesuatu. Tidak adanya sumber-sumber motivasi hidup menyebabkan kemalasan.
Supaya motivasi muncul, seseorang harus berani memutuskan tujuan-tujuan hidupnya.
Menurut Andrias Harefa dalam bukunya Agenda Refleksi dan Tindakan Untuk Hidup Yang Lebih Baik (GPU, 2004), dia harus membuat komitmen atas apa saja yang ingin diselesaikan, dicapai, dimiliki, dilakukan, dan dinikmati (disingkat secamilanik).
Contoh komitmen;
“pada ulang tahun yang ke …. saya sudah harus menyelesaikan buku yang saya tulis, meraih promosi pekerjaan, mencapai gelar S-3, memiliki rumah dan mobil, melakukan sejumlah kunjungan ke mancanegara, dan menikmati kebahagiaan bersama keluarga.”
2. Mengasah Kemampuan. Orang yang memiliki tujuan-tujuan hidup yang pasti, membuat resolusi dan komitmen-komitmen pencapaian biasanya memiliki motivasi tinggi. Tetapi tujuan yang samar-samar jelas tidak memberikan dampak motivasional yang signifikan. Nah, akan lebih baik lagi jika tujuan-tujuan dilengkapi dengan aktivitas-aktivitas pembelajaran, seperti mencari cara-cara yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Kita juga perlu sekali mengasah kemampuan atau ketrampilan-ketrampilan supaya langkah-langkah yang diambil itu akan membawa kita pada pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.
Contoh; jika pada tahun yang sudah ditargetkan kita ingin menjadi konsultan, maka sejak sekarang aktivitas-aktivitas kita sudah harus difokuskan ke arah tujuan tersebut. Kita harus terus mengasah kemampuan mendiagnosa masalah, menemukan penyebab, menganalisis, mengkomunikasikan gagasan, menawarkan solusi, dan memperbaiki kemampuan presentasi.
Jika aktivitas-aktivitas pembelajaran itu dilakukan secara konsisten dan dengan komitmen sepenuhnya, maka kita telah berada di jalur yang benar. Aktivitas-aktivitas pembelajaran akan menempatkan kita pada posisi dan lingkungan yang dinamis. Kemampuan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah juga akan meningkat. Dengan sendirinya ini akan semakin memperkuat rasa percaya diri kita, menebalkan komitmen pencapaian tujuan, dan tentu saja menumbuhkan semangat.
Sebaliknya, jika kita sama sekali menolak aktivitas-aktivitas pembelajaran, komitmen akan semakin melemah, semangat turun, dan kemalasan akan datang dengan cepat. Pada titik ini, tujuan-tujuan, resolusi atau komitmen yang sudah kita buat sudah tidak memiliki arti lagi. Sayang sekali.
3. Pergaulan Dinamis. Para pemenang berkumpul dengan sesama pemenang, sementara para pecundang cenderung berkumpul dengan sesama pecundang. Ungkapan tersebut mengandung kebenaran. Sulit sekali bagi seorang pemalas untuk hidup di lingkungan para pemenang. Sulit bagi orang malas untuk berada secara nyaman di tengah-tengah orang yang sangat optimis, sibuk, giat bekerja, dan bersemangat mengejar prestasi. Demikian sebaliknya. Sulit sekali bagi para high achiever untuk betah berlama-lama dengan para orang malas dan pesimistik.
Situasi atau lingkungan di mana kita berada sungguh ada pengaruhnya. Orang yang mulai dihinggapi rasa malas sangat dianjurkan agar menjauhi mereka yang juga mulai diserang kebosanan, putus asa, rasa enggan, apalagi negative thinking. Sepintas, berkeluh kesah dengan mereka dengan orang-orang seperti itu dapat melegakan hati. Ada semacam rasa pelepasan dari belenggu psikologis. Walau demikian, dalam situasi malas sedang menyerang, mendekati orang-orang yang sedang down sama sekali tidak menolong satu sama lain. Rasa malas dan kebuntuan justru bisa tambah menjadi-jadi. Ini bisa menjerumuskan masing-masing pihak pada pesimisme, keputusasaan, dan kemalasan total.
Jika rasa malas mulai menyerbu kita, jangan berlama-lama duduk berdiam diri. Cara paling ampuh menghilangkan kemalasan adalah bangkit berdiri dan menghampiri orang-orang yang sedang tekun dan bersemangat melakukan sesuatu. Dekati mereka yang sedang bekerja keras untuk meraih impian-impiannya. Manusia-manusia optimis, self-motivated, punya ambisi, positive thinking, dan memiliki tujuan hidup pasti, umumnya memancarkan aura positif kepada apa pun dan siapa pun di sekelilingnya. Pancaran optimisme dan semangat itulah yang bisa menginspirasi orang lain, bahkan menularkan semangat yang sama sehingga orang lain jadi ikut tergerak.
4. Disiplin Diri. Ada sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya dari Andrie Wongso, Motivator No.1 Indonesia, yang bunyinya;
“Jika kita lunak di dalam, maka dunia luar akan keras kepada kita. Tapi jika kita keras di dalam, maka dunia luar akan lunak kepada kita”.
Kata-kata mutiara yang luar biasa ini menegaskan, bahwa jika kita mau bersikap keras pada diri sendiri, dalam arti menempa rasa disiplin dalam berbagai hal, maka banyak hal akan bisa kita kerjakan dengan baik.
Sikap keras pada diri sendiri atau disiplin itulah yang umumnya membawa kesuksesan bagi karir para olahragawan dan pekerja profesional yang memang menuntut sikap disiplin dalam banyak hal.
Bayangkan, bagaimana seorang atlet bisa menjadi juara jika dia tidak disiplin berlatih? Bagaimana mungkin ada pekerja profesional yang bagus karirnya jika dia sering mangkir atau bolos kerja?
Sebaliknya, jika kita terlalu lunak atau memanjakan diri sendiri, memelihara kemalasan, mentolerir kinerja buruk, tidak merasa bersalah jika lalai atau gagal dalam tugas, maka dunia luar akan sangat tidak bersahabat.
Olahragawan yang manja pasti tidak akan pernah jadi juara. Seorang sales yang malas tidak akan pernah besar penjualannya. Seorang konsultan yang menolerir kinerja buruk pasti ditinggalkan kliennya. Dan pekerja yang tidak disiplin pasti mudah jadi sasaran PHK.
Jika kita lunak pada diri sendiri, maka dunia akan keras pada kita.
Rasa malas jelas merugikan. Obat mujarabnya adalah menumbuhkan kebiasaan mendisiplinkan diri dan menjaga kebiasaan positif tersebut.
Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar, jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau Anda ingin sukses, jangan mempermudah munculnya rasa malas.
Tip Berburu Dalam Memperjuangkan Kehidupan
Dimanapun kita berada, maka disitulah tempat terbaik kita..! Seringkali kita merasa terkungkung dengan lingkungan dimana kita berada. Tidak jarang orang berpikir dan merasa bahwa tidak mungkin bagi mereka untuk bisa meraih sukses.
Misalnya mereka yang hidup di daerah terpencil, merasa susah, dan jauh untuk mendapat sentuhan teknologi, atau menerima informasi terbaru dengan cepat. Hingga berpikir, begitu susahnya berjuang dan mengembangkan usaha.
Sebaliknya, mereka yang hidup di kota besar berpikir betapa sesaknya dunia. Begitu ketatnya tingkat persaingan hidup. Dimana pun berada, saling sikut, saling senggol, saling tendang. Hingga akhirnya memutuskan, memang susah untuk menjadi yang terdepan.
Dalam berjuang segala sesuatunya memang seringkali tidak sesuai keinginan kita. Bisa jadi kita merasa lingkungan tidak lagi ramah, dan kondisinya tidak nyaman. Padahal sesungguhnya, dimanapun kita berada, pahami bahwa ITULAH tempat terbaik kita. Tempat dimana kita hidup, tempat di mana kita memperjuangkan apapun yang kita inginkan.
Sekarang, mari renungkan sejenak…
1. Jika kita selalu saja berpikir bahwa tempat lain adalah lebih baik, maka sampai kapan kita akan mulai berjuang?
2. Jika kita selalu saja menunggu datangnya kesempatan emas di tempat lain, berapa banyak waktu yang terbuang, hanya sekadar untuk menunggunya?
3. Jika kita selalu saja menunda apapun yang bisa kita lakukan di tempat kita berada sekarang, maka berapa banyak kesempatan yang terbuang percuma?
Dan masih banyak lagi hal yang perlu direnungkan..!
Karenanya, jika saja kita mau berpikir bahwa inilah tempat terbaik kita, maka kita akan memiliki kesadaran dan kemampuan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik, lebih bernilai, dan penuh arti!
Kita semua memiliki kesempatan emas untuk menjadi besar & benar dimana saja… asal, kita mau memperjuangkannya!
Misalnya mereka yang hidup di daerah terpencil, merasa susah, dan jauh untuk mendapat sentuhan teknologi, atau menerima informasi terbaru dengan cepat. Hingga berpikir, begitu susahnya berjuang dan mengembangkan usaha.
Sebaliknya, mereka yang hidup di kota besar berpikir betapa sesaknya dunia. Begitu ketatnya tingkat persaingan hidup. Dimana pun berada, saling sikut, saling senggol, saling tendang. Hingga akhirnya memutuskan, memang susah untuk menjadi yang terdepan.
Dalam berjuang segala sesuatunya memang seringkali tidak sesuai keinginan kita. Bisa jadi kita merasa lingkungan tidak lagi ramah, dan kondisinya tidak nyaman. Padahal sesungguhnya, dimanapun kita berada, pahami bahwa ITULAH tempat terbaik kita. Tempat dimana kita hidup, tempat di mana kita memperjuangkan apapun yang kita inginkan.
Sekarang, mari renungkan sejenak…
1. Jika kita selalu saja berpikir bahwa tempat lain adalah lebih baik, maka sampai kapan kita akan mulai berjuang?
2. Jika kita selalu saja menunggu datangnya kesempatan emas di tempat lain, berapa banyak waktu yang terbuang, hanya sekadar untuk menunggunya?
3. Jika kita selalu saja menunda apapun yang bisa kita lakukan di tempat kita berada sekarang, maka berapa banyak kesempatan yang terbuang percuma?
Dan masih banyak lagi hal yang perlu direnungkan..!
Karenanya, jika saja kita mau berpikir bahwa inilah tempat terbaik kita, maka kita akan memiliki kesadaran dan kemampuan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik, lebih bernilai, dan penuh arti!
Kita semua memiliki kesempatan emas untuk menjadi besar & benar dimana saja… asal, kita mau memperjuangkannya!
Tip berburu Kepentingan
Tidaklah penting berapa lama kita hidup! Satu hari, atau seratus tahun…
Hal yang benar-benar penting adalah APA yang kita telah lakukan selama hidup kita dapat memberikan manfaat bagi orang lain!
Seperti Apa Anda Mengukir Sejarah?
“The difference between a successful person and others is in a lack of will” ~ Vince Lombardi, Football Coach
Kebanyakan manusia cukup puas hanya dengan… Lahir – Hidup – dan lalu meninggal.
Hingga akhirnya yang tertinggal hanya tiga baris di batu nisannya :
Si X, lahir tanggal sekian, dan meninggal tanggal sekian!
Inginkah kita menjalani hidup apa adanya seperti itu?
Seperti apa kita mengukir sejarah?
Ada 3 hal yang bisa membedakan orang dalam mengukir sejarah, yaitu… Kemauan, Keilmuan dan Kesempatan.
1. Kemauan. Kemauan menjadi kata kunci yang paling penting dalam menentukan sejarah hidup. Kita mau menjadi apa? Seperti apa? dan di mana? Tentunya hanya kita yang paling mengetahuinya! Cobalah catat semuanya. Baik itu melalui memori, diary, atau melalui selembar kertas sekali pun! kita pasti punya kemauan! Jangan pernah katakan kita tidak punya kemauan. Hidup itu terlalu pendek untuk disia-siakan.
2. Keilmuan. Percaya, segala sesuatu itu pasti ada ilmunya! Jika kita punya kemauan dan memiliki ilmunya, maka segala usaha akan tercapai dengan lebih baik. Itu sebabnya kita harus mau belajar dan belajar. kita bisa belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Ingat, tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, mengenal, memahami, dan mengamalkan sesuatu hal yang bermanfaat
bagi kehidupan kita, begitu juga bagi orang lain.
3. Kesempatan. Jika kemauan ada, keilmuan ada, maka tinggal kesempatanlah yang memutuskan apakah kita bisa mengukir sejarah dengan baik atau tidak. Kesempatan ini bisa datang dari mana saja, tergantung kecekatan kita dalam memanfaatkan setiap peluang yang ada. Kita tahu, seringkali kesempatan itu hadir, tapi kita tidak mampu memanfaatkannya dengan benar, karena keilmuannya kurang, meski keinginan kita itu sebenarnya sudah besar. Jika ini terjadi, tidak jarang orang menyesal dan kadang menjadi berfikir bahwa nasib selalu tidak berpihak padanya. Sebenarnya tidak demikian! Dia hanya tidak tahu bagaimana cara menyatukan 3K! Yaitu… Kemauan, Keilmuan dan Kesempatan!
Nah, sekarang kita tahu, apa yang harus dilakukan untuk bisa mengukir sejarah dengan baik dalam hidup kita!
Padukan antara kemauan, keilmuan dan kesempatan. Jika kemauan sudah ada, keilmuan sudah ada, maka kesempatan itu sebenarnya bisa dicari dan diupayakan!
Dan percaya… ketika ketiga unsur ini berpadu dalam hidup kita, maka sejarah kebesaran tentang kita telah dimulai. :-)
Hal yang benar-benar penting adalah APA yang kita telah lakukan selama hidup kita dapat memberikan manfaat bagi orang lain!
Seperti Apa Anda Mengukir Sejarah?
“The difference between a successful person and others is in a lack of will” ~ Vince Lombardi, Football Coach
Kebanyakan manusia cukup puas hanya dengan… Lahir – Hidup – dan lalu meninggal.
Hingga akhirnya yang tertinggal hanya tiga baris di batu nisannya :
Si X, lahir tanggal sekian, dan meninggal tanggal sekian!
Inginkah kita menjalani hidup apa adanya seperti itu?
Seperti apa kita mengukir sejarah?
Ada 3 hal yang bisa membedakan orang dalam mengukir sejarah, yaitu… Kemauan, Keilmuan dan Kesempatan.
1. Kemauan. Kemauan menjadi kata kunci yang paling penting dalam menentukan sejarah hidup. Kita mau menjadi apa? Seperti apa? dan di mana? Tentunya hanya kita yang paling mengetahuinya! Cobalah catat semuanya. Baik itu melalui memori, diary, atau melalui selembar kertas sekali pun! kita pasti punya kemauan! Jangan pernah katakan kita tidak punya kemauan. Hidup itu terlalu pendek untuk disia-siakan.
2. Keilmuan. Percaya, segala sesuatu itu pasti ada ilmunya! Jika kita punya kemauan dan memiliki ilmunya, maka segala usaha akan tercapai dengan lebih baik. Itu sebabnya kita harus mau belajar dan belajar. kita bisa belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Ingat, tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, mengenal, memahami, dan mengamalkan sesuatu hal yang bermanfaat
bagi kehidupan kita, begitu juga bagi orang lain.
3. Kesempatan. Jika kemauan ada, keilmuan ada, maka tinggal kesempatanlah yang memutuskan apakah kita bisa mengukir sejarah dengan baik atau tidak. Kesempatan ini bisa datang dari mana saja, tergantung kecekatan kita dalam memanfaatkan setiap peluang yang ada. Kita tahu, seringkali kesempatan itu hadir, tapi kita tidak mampu memanfaatkannya dengan benar, karena keilmuannya kurang, meski keinginan kita itu sebenarnya sudah besar. Jika ini terjadi, tidak jarang orang menyesal dan kadang menjadi berfikir bahwa nasib selalu tidak berpihak padanya. Sebenarnya tidak demikian! Dia hanya tidak tahu bagaimana cara menyatukan 3K! Yaitu… Kemauan, Keilmuan dan Kesempatan!
Nah, sekarang kita tahu, apa yang harus dilakukan untuk bisa mengukir sejarah dengan baik dalam hidup kita!
Padukan antara kemauan, keilmuan dan kesempatan. Jika kemauan sudah ada, keilmuan sudah ada, maka kesempatan itu sebenarnya bisa dicari dan diupayakan!
Dan percaya… ketika ketiga unsur ini berpadu dalam hidup kita, maka sejarah kebesaran tentang kita telah dimulai. :-)
Subscribe to:
Posts (Atom)
